Rabu, 04 Juli 2012

FF ini pernah admin publish di blog pribadi milik admin, jadi kalau ada yg udah baca berarti itu dari blog admin,, kalau ada typo harap maklum yaa,,,
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA,,,,,

Judul : It's Our Love

Cast :
-Cho Kyuhyun

-Park Sara / You (Imaginer)

-And other cast Super Junior member.

Sara POV,,

Ini hari keduaku di Korea. Akhirnya aku kembali ke Negara tempat aku dilahirkan. Kepergian Omma dua bulan yang lalu masih membuat hatiku sedih, tapi sekarang aku harus bisa ceria demi Appa. Satu-satunya orangtua yang masih kumiliki. Sepertinya jalan-jalan sore bisa membuatku lebih bersemangat. Sudah lama aku tidak berjalan-jalan disini.

“Appa, aku ingin berjalan-jalan sebentar. Boleh ya?” tanyaku pada Appa yang sedang berbaring dikamarnya. Kondisi kesehatan Appa sedang tidak baik hari ini.

“Ajaklah seorang pegawai untuk menemanimu pergi. Kalau kau pergi sendiri bisa-bisa kau tersesat,” kata Appaku yang terdengar khawatir. Appa seorang pengusaha hotel bintang lima dijepang dan korea. Jadi dia memiliki banyak pegawai yang bisa menemaniku. Tapi aku tidak suka kalau hidupku diawasi seperti itu.

“Appa, aku ini bukan anak kecil, ingat umurku sudah 20 tahun. Aku masih ingat jalanan sekitar sini, aku tidak akan pergi jauh-jauh. Lagipula kalau aku tersesat aku tinggal minta dijemput saja,” kataku ceria, mencoba menenangkan Appa. Mungkin Appa mengkhawatirkanku karena sudah hampir enam tahun aku meninggalkan korea dan tinggal di Indonesia bersama Omma yang saat itu memutuskan bercerai dari Appa.

“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya!” perintah Appaku.

“Annyeong Appa. I love you,” kataku sambil beranjak meninggalkan Appa.

Huuuh.. udara sore ini sangat dingin jadi aku sudah siap dengan jaket hoodie tebal dan mantel untuk membalut tubuhku, tak lupa memakai sarung tangan dan sepatu boot kulit milikku. Sudah lama tidak memakai pakaian seperti ini. Apa aku terlihat aneh? Wajahku tersenyum melihat keadaan jalanan disekitarku. Sudah banyak yang berubah. Banyak bangunan modern dan restoran disepanjang jalan. Aku sangat bersemangat menikmati atmosfer kota Seoul yang ceria, tapi aku harus berhati-hati dengan langkahku kalau tidak mau tergelincir.

Aku akan menyebarang jalan ketika aku melihat itu. sebuah mobil yang nampaknya tergelincir karena salju kehilangan kendali dan sepertinya akan menabrak seorang namja yang berdiri cukup dekat denganku. Tapi sepertinya namja itu tidak melihat mobil yang akan menabraknya. Dengan pacuan adrenalin yang memuncak dalam tubuhku, aku berlari menghampri namja yang sedang berdiri disamping kotak pos membelakangi jalan raya itu, lalu menariknya secepat mungkin menjauhi kotak pos. tapi es dibawah kakiku membuatku tergelincir dan kami berdua tersungkur diatas tanah berlapis es yang dingin, tubuh namja itu menindih tubuhku. Belum sempat membenahi posisi kami berdua, aku mendengar suara tabrakan yang sangat keras di dekat ku. Kupejamkan mataku kuat-kuat mendengar suara yang memekakkan telinga itu. Bisa kurasakan tubuh diatasku menegang.

“Ya Tuhan kau menyelamatkanku,” kata pria diatasku ketika mencoba bangkit dari atas tubuhku.

“Apa kau tidak apa-apa?” tanyaku ikut bangkit. Tapi sesuatu menahanku.

“Awwhh,,” keluhku. Sepertinya kakiku terkilir saat menolongnya tadi.

“Gwenchanayo?” Tanyanya sambil mencoba membantuku berdiri.

“Sepertinya kakiku terkilir,” kataku pelan sambil menahan rasa sakit yang menyerang pergelangan kaki kananku.

“Baiklah, aku kan membantumu duduk dikursi itu,” katanya sambil menunjuk kursi yang berada tak jauh dari kami. Keadaan di sekitar jalan itu sudah ramai dengan orang-orang yang ingin melihat kecelakkan yang baru saja terjadi. Kotak pos yang tertabrak menjadi ringsek tidak berbentuk sedangkan bagian samping mobil yang menabrak kotak pos itu penyok nyaris hancur. Namja ini sungguh beruntung.

“Kamsahamnida. Kau sudah menyelamatkan nyawaku dan maaf sudah membuatmu terkilir seperti ini.” kata namja yang baru saja kutolong.

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya berada di waktu dan tempat yang tepat saja,” jawabku menahan sakit.

“Buka sepatumu. Biar kulihat keadaan kakimu yang terkilir.” pintanya.

Kubuka sepatuku dan kulihat pergelangan kakiku yang memerah dan membengkak. Sakit sekali rasanya. Tiba-tiba namja itu meraih kakiku dan menaruhnya dipangkuannya sambil mulai memijit pergelangan kakiku. Bibirnya tersenyum. Namja yang manis, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai sweater hoodie yang menutupi kepalanya dan sebuah kaca mata hitam besar menutupi sebagian wajahnya.

“Aww,,” aku meringis ketika dia memijat kakiku lembut.

“Apa sangat sakit?” tanyannya cemas.

“Sedikit,” dustaku.

“Sebaiknya kau kuantar ke rumah sakit. Aku takut cideramu ini parah,” dia kembali terlihat khawatir dan bersalah.

“Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya butuh dikompres,” jawabku ringan. Kalau aku sampai kerumah sakit, Appa pasti akan khawatir.

“Kalau begitu, ikut aku. Tempat tinggalku dekat dari sini. Aku akan menggendongmu,” tiba-tiba saja namja itu memakaikan kembali sepatuku dan kini berlutut membelakangiku. Menyuruhku naik kepunggungnya.

“Tapi aku,,”

“Sudah ayo cepat naik. Lama-lama diam disini bisa membuat kita membeku,” ucapnya memotong kata-kataku. Dengan pasrah aku menaiki punggungnya dan melingkarkan tanganku di lehernya. Dengan perlahan dia mengangkat tubuhku dan menahan tubuhku dengan kedua tangannya yang terulur ke belakang.

Dengan mantap namja yang menggendongku melangkah menusuri jalan. Tidak jauh dari tempat kami berada dia berbelok dan memasuki sebuah komplek apartemen yang cukup besar. Sepertinya apartemen yang cukup elit. Setelah sampai di dalam lift dia menekan tombol 11. Aku tidak mengenal namja ini tapi mau diajak ke apartemennya. Apa yang kupikirkan? Bagaimana bila namja ini berbuat jahat padaku? Tapi, sepertinya dia orang yang baik. Lagipula aku sudah menyelamatkannya, jadi kalau dia menjahatiku dia sangat tidak tahu terimakasih.

Pintu lift terbuka dan dia menyusuri lorong apartemen itu. kemudian berhenti di depan sebuat pintu yang sangat kotor. Bukan karena kotoran yang sudah lama tidak dibersihkan melainkan kotor karena coretan-coretan tangan. Setelah memasukan kombinasi password, pintu didepankupun terbuka. Dengan tetap masih menggendongku dia melangkah masuk dan mendudukanku di sebuah sofa nyaman di depat TV. Kupandangi ruangan luas itu. Tidak terlalu banyak perabotan, hanya ada sofa yang kududuki, sebuah sofa lagi disudut ruangan, meja makan dan lemari besar berisi banyak piala yang spertinya hasil dari sebuah penghargaan . Sebenarnya siapa namja ini?

Namja yang menolongku itu telah kembali setelah tadi dia meninggalkanku, sepertinya ke dapur. Karena sekarang aku melihatnya membawa handuk kecil dan mangkuk berisi air hangat (terlihat dari asap tipis yang mengepul).

“Sini biar ku kompres kakimu,” katanya sambil menarik kakiku dan meletakannya kembali di pangkuannya.

Dia mengompres kakiku dengan lembut, rasanya sangat nyaman. Kakiku tidak terasa berdenyut-denyut lagi. Kuamati lagi wajahnya yang tengah menekuni kakiku (?). Dia masih mengenakan kacamata dan menutupi kepalanya dengan hoodie. Siapa dia. Kenapa sangat misterius?

“Siapa namamu?” tanyanya tiba-tiba.

“oh, choneun Park Sara imnida,” jawabku terbata karena ia mengagetkanku.

“kau, siapa namamu?” tanyaku padanya.

Dia hanya tersenyum memandangku sambil melepas kacamata dan hoodie dikepalanya. Ya Tuhan dia tampan sekali, persis seperti bayanganku tadi.

“Sekarang, kau sudah mengenaliku?” tanyanya sambil memamerkan senyumannya yang sangat manis.

Aku berfikir sebentar. Sepertinya pernah melihat wajah tampan ini. Tapi dimana aku melihatnya? Hidungnya, bibirnya, senyumnya, seperti,,,, Tidak mungkin!!! Tidak mungkin dia, Ya Tuhan benarkah dia,,,

Benarkah dia Cho Kyuhyun member super junior itu? aku memang tidak terlalu mengenal mereka tapi aku hapal wajah biasku. Walaupun bukan seorang Elf fanatic tapi aku menyukai beberapa lagu mereka dan sangat menyukai suara namja yang sekarang tepat berada dihadapanku. Entah sudah seperti apa wajahku saat ini. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Cho Kyuhyun.

“Kau, Cho Kyuhyun member super junior kan?” tanyaku tak percaya. Dia hanya mengangguk.

“Kau benar-benar Kyuhyun?” tanyaku ingin lebih memastikan.

“Apa aku harus menunjukkkan KTPku agar kau percaya?” tanyanya sambil tertawa. (emang disono mananya juga KTP ya? Ah, sudahlah anggap aja iya!!)

“Oh tidak perlu seperti itu. aku percaya.” Kataku malu sambil menundukan kepalaku.

“Kau terlihat sangat tenang. Kau bukan seorang elf, hah?” tanyanya. Tenang? Dia bilang aku tenang? Aku sangat terkejut tapi aku pandai menyimpan perasaanku. Sebenarnya aku ingin melompat-lompat sangking senangnya.

“Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal super junior. Aku hanya tahu kalau grup kalian sangat terkenal. Tapi berhubung aku tidak tinggal di Korea selama ini jadi aku hanya tahu sedikit mengenai kalian,” jawabku jujur. Sepertinya Kyuhyun kaget mendengar perkataanku.

“Kau tidak tinggal dikorea sebelumnya? tapi bahasa koreamu sangat baik. Tanpa cela, bagaimana mungkin?” tanyanya penasaran. Aku tersenyum mendengar katidakpercayaanya.

“Sebelumnya aku memang tinggal dikorea. Tapi, enam tahun yang lalu aku pindah ke Indonesia bersama ibuku dan sekarang aku baru kembali ke korea lagi.” Jawabku.

“Ooh, seperti itu. pantas saja.” katanya acuh.

“Bagaimana kakimu sekarang, apa sudah baikan?” tanyanya padaku.

“Sudah tidak terlalu sakit,” jawabku sambil menurunkan kakiku dari pangkuannya dan mencoba mengerak-gerakkan kakiku. Sepertinya sudah membaik walaupun masih terasa agak ngilu.

“Aku benar-benar berterima kasih padamu karena telah menolongku. Kalau tidak ada kau yang menarikku dari sana mungkin sekarang aku sudah berada di Rumah Sakit lagi,” katanya menerawang. Seoalah-olah sedang mengingat sesuatu yang buruk. Mungkinkah kejadian tiga tahun yang lalu? Sepertinya begitu.

“Aku senang bisa membantumu. Tidak usah sungkan begitu. Lagipula kau juga sudah menolongku,” kataku sambil menunjuk kakiku yang sedang kugerak-gerakkan.

“Tapi kakimu jadi terkilir juga kan karena aku,” katanya murung. Wajahnya jadi terlihat menua dengan lingkaran hitam dibawah matanya. Terlihat kalau sebenarnya dia lelah.

“Sudahlah. Anggap saja kita impas. Aku menolongmu dan kau menolongku.” Kataku sambil tersenyum padanya. Dia hanya membalasku dengan senyuman. Dan tiba-tiba memukul kepalanya seperti mengingat sesuatu.

“Ah, aku lupa. Aku belum memberimu minum. Tunggu sebentar disini akan kuambilkan sesuatu yang hangat untukmu.” Diapun segera beranjak ke dapur untuk mengambil minuman. Tak lama dia kembali dengan dua cangkir berisi coklat panas. Aku dapat mengetahui itu dari aroma coklat yang tercium diudara.

“Ini minumlah,” dia memberikan cangkir berisi coklat hangat itu ke tanganku.

Kusesap aroamnya dan kuteguk cairan hangat yang tampak lezat itu.

“Hmm,, nikmat,” ucapku sambil mendesah pelan, menikmati sensasi hangat dari coklat yang kuminum sambil menjilati bibirku.

Dia tertawa melihat tingkahku.

“Kenapa tertawa?” tanyaku padanya. Dia hanya semakin melebarkan senyuman diwajahnya. Dia tampan sekali saat tersenyum. Wajah lelahnya sekejap menghilang.

“Kau lucu sekali,” jawabnya. Apa? Lucu? Aku lucu katanya? Apa benar aku lucu? Cho Kyuhyun menyebutku lucu? Apa aku tidak bermimpi? Ya Tuhan ini nyata bukan? (ni cewe budek apa ya? Nanya-nanya mulu. Lama-lama disambit juga deh!!! Hahaha,,)

Aku tertunduk malu karena perkataannya berusan. Suasana menjadi hening. Kulihat dengan santainya dia menyesap coklat panasnya. Kulayangkan pandangan mengamati ruangan ini sekali lagi. Kenapa tempat ini sangat sepi. Bukankah semua member super junior tinggal bersama? Aku terus bertanya-tanya sampai tiba-tiba kudengar suaranya menjawab pertanyaan yang berada dikepalaku.

“Semua Hyung masih ada pekerjaan sampai nanti malam. Aku pulang cepat hari ini. Makanya sekarang dorm sepi dan hanya ada aku disini,” katanya menjawab keingintahuanku. Apa dia bisa membaca pikiran?

“Ooh,” jawabku singkat. Tiba-tiba aku teringat janjiku pada Appa kalau aku tidak akan pergi terlalu lama. Kulirik jam yang ada di tangan kiriku. Ternyata aku sudah keluar rumah hampir empat jam. Appa pasti khawatir.

Kyuhyun melihat wajahku yang berubah panik.

“Ada apa?” tanyanya.

“Eh, sepertinya aku harus segera pulang. Ini sudah lewat jam makan malam. Appaku pasti sangat khawatir,” kataku menjawab pertanyannya.

“Baiklah. Tunggu sebentar disini. Aku akan mengantarmu pulang,” katanya seraya bangkit dari duduknya.

“Kyuhyun-ssi. Tidak usah mengantarku. Aku akan minta supirku menjemput. Lagipula aku tidak mau merepotkanmu,” kata-kataku membuatnya menghentikan langkahnya menuju meja untuk mengambil sebuah kunci yang tergelatak disana.

“Benarkah? Apa tidak apa-apa jika seperti itu?” tanyanya.

“Hmm,,” jawabku sambil mengeluarkan handphone-ku dari dalam saku jaket dan mulai menelpon Kim ahjussi untuk menjemputku.

Kyuhyun mengantarku sampai pintu lobi dormnya. Aku menolaknya mengantarku pulang karena memikirkan kondisinya sebagai seorang artis terkenal, bisa bahaya nanti kalau ada yang melihat kami. (ge-er banget sih gue!!!!)

Kyuhyun POV,,

Dorm Suju,,,

“Kami pulang,,” Teukie hyung, Eunhyuk hyung, Sungmin hyung dan Yesung hyung berkata serempak ketika memasuki dorm.

“Selamat datang,” kataku sambil melambaikan tangan kiriku. Tatapaan mataku tidak bergeser sedikitpun dari PSP di tangan kananku.

“Aish, anak ini menyambut kedatangan hyungnya dengan cara seperti itu. Apa kau sudah makan?” kudengar suara Teukie hyung dari arah dapur.

“Belum,” jawabku pendek.

“Kenapa belum makan? Nanti kau bisa sakit Kyu. Sudah tinggalkan permainanmu itu. Kita makan dulu, aku sudah membelikan jjangmyeon kesukaanmu,” Sungmin hyung memanggilku dari meja makan.

“Sebentar hyung, sedikit lagi aku menang, ini sudah level terakhir,” jawabku sambil tak bergeser sedikitpun dari tempatku. Permainan yang sedang kumainkan sedang seru-serunya. Tidak asik kalau aku harus menyudahinya sekarang.

“Terserah kau saja. Tapi jangan salahkan aku kalau Shindong hyung datang dan menghabiskan semua makanan ini,” Sungmin hyung mulai mengancamku lagi. Tapi dia benar. Perutku sudah lapar dan bisa tidak kebagian makan nanti kalau Shindong hyung menghabiskan semuanya.

Dengan berat hati kutinggalkan permainanku dan menghampiri Hyung-hyungku yang berkumpul di meja makan. Aahh, sepertinya enak sekali aroma jjangmyeon yang dibelikan Sungmin hyung. Akupun mulai melahapnya dengan semangat.

“Apa yang kau lakukan sore tadi Kyu?” Eunhyuk hyung bertanya padaku.

“Tidak ada. Aku hanya berjalan-jalan sebentar keluar dan,,,” kuceritakan semua kejadian yang sore tadi kualami. Mulai di kecelakaan yang hampir menimpaku hingga pertemuanku dengan gadis manis yang menjadi penyelamat jiwaku. Awalnya semua Hyung-ku sangat khawatir ketika mendengar aku hampir saja ditabrak sebuah mobil yang tergelincir dijalanan yang licin, maklum saja pengalamanku yang pernah mengalami kecelakaan parah membuat hyungku jadi sering mengkhawatirkanku. Tetapi wajah mereka berubah menjadi penasaran ketika aku menceritakan mengenai seorang gadis yang menolongku keluar dari bahaya maut.

“Siapa namanya? Apa di cantik?” tanya Eunhyuk Hyung penasaran.

“Namanya Park Sara, dia sangat manis juga sangat baik,” jawabku sambil sedikit merenung. Mengingat-ingat Sara yang manis saat tersenyum membuatku ikut tersenyum. Dasar Lee Hyuk Jae ini, yang dipikirannya hanya yeoja cantik saja.

“Wah, sepertinya dia tidak sekedar manis,” kata Yesung hyung di depan wastefel sambil mencuci mangkuk bekas makannya.

“Apa maksudmu hyung?” tanyaku tak mengerti.

“Sepertinya kesan yang diberikan gadis itu tidak sebatas wajah yang manis,” Yesung hyung menjelaskan maksudnya dan di iyakan oleh Hyung lainnya sambil mengangguk-ngangguk. Bisa kurasakan wajahku memanas karena malu. Apa sejelas itu perasaan yang kurasakan pada Sara? Aku menyukai senyumnya, caranya bicara, suaranya yang lembut dan sikapnya yang tenang.

“Tidak usah menyembunnyikan perasaanmu Kyu. Kami tahu kau terkesan dengan wanita itu.” Teukie hyung menambahkan. Menambah merah mukaku.

“Sepertinya ada yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama nih. Benarkan kataku kalau magnae kita sudah beranjak dewasa sekarang,” Eunhyuk hyung ikut memperolokku.

“Yak, Hyung jangan memperolokku seperti itu. senang sekali kalian ini membuatku malu,” kataku sambil meninggalkan mereka memasuki kamarku dan membanting pintu kamarku cukup keras. Apa-apaan mereka ini. Membuatku malu saja. Kalaupun aku menyukai Sara memangnya kenapa? Aku kan pria normal yang boleh menyukai seorang gadis. Walaupun ini tidak biasa, karena aku menyukai seorang gadis yang baru pertama kali kutemui, tapi ini merupakan sesuatu yang normal kan?

“Kyu, hei Kyu cepat kesini.” Teukie hyung memanggilku.

Dengan berat hati kulangkahkan kakiku keluar kamar, padahal aku sudah membaringkan tubuhku diranjang bersiap-siap untuk tidur.

“Ada apa hyung? Aku lelah, ingin istirahat.” kataku dengan malas menghampirinya.

“Ini, apa ini handphone milikmu?” Teukie hyung menyerahkan sebuah handphone padaku. Bukan ini bukan milikku, tipenya sama tapi warnanya berbeda. Apa mungkin ini milik Sara dan tertinggal disini. Kusentuh layar hanphone itu dan muncul wajah manis yang telah membuatku malu di depan Hyungku tadi.

“Sepertinya ini milik Sara yang tertinggal. Oettokhe? Aku bahkan tidak tahu dia tinggal dimana,” kataku mulai panik.

“Benarkah itu milik gadis yang tadi menolongmu?” tanya Eunhyuk hyung. Aku hanya mengangguk.

“Berikan padaku. Aku ingin melihat wajahnya. Ada fotonya kan?” tanya Eunhyuk hyung padaku sambil memasang wajah evilnya.

“Yak!! Lee Hyuk Jae. Ini bukan milikmu dan tidak sopan membuka handphone orang lain.” Kataku sambil memasukan handphone milik Sara ke saku celanaku dan kembali masuk ke kamarku sambil tersenyum senang meninggalkan mereka yang tampak kecewa. Tadinya kupikir aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Tapi dengan tertinggalnya handphone ini disini, kemungkinan aku bisa bertemu dengan Sara lagi sangat besar. Aku tersenyum senang memikirkannya.

Sara POV,,

“Sara-ya apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuat kamarmu berantakan seperti ini?” tanya Appa dari ambang pintu kamarku.

Kupandangi keadaan kamarku saat ini. Memang berantakan, semua barang tidak berada ditempatnya. Beberapa baju berserakan dilantai, bantal-bantal dan seprai meninggalkan tempat seharusnya mereka berada. Dimana benda itu??

“Maaf Appa, nanti akan kubereskan. Aku sedang mencari sesuatu,” kataku sambil kembali mengaduk tas, berharap menemukan benda yang kucari.

“Memangnya kau mencari apa?” tanya Appa sambil menaruh bantal di atas tempat tidur.

“Handphoneku. Sepertinya terselip entah dimana. Aku membutuhkannya sekarang tapi tidak kutemukan dimanapun,” jawabku sambil terus melakukan pencarianku yang nihil.

“Memangnya kau menaruhnya dimana?” tanya Appa yang sekarang sedang duduk di atas tempat tidurku yang berantakan.

“Entahlah, aku lupa,” kataku menyerah dan ikut duduk disamping Appa.

“Apa mungkin kau meninggalkannya di tempat orang yang menolongmu itu?” tanya Appa.

Tunggu dulu, sepetinya dugaan Appa benar. Terakhir kali kugunakan handphone itu kemarin malam saat menghubungi Kim Ahjussi untuk menjemputku. Apa mungkin memang tertinggal disana? Ya Tuhan, kalau begitu aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kyuhyun-ssi lagi? Benarkah? Kyaaaa!!!

“Coba kau telepon ke nomormu dan kita lihat siapa yang memegang teleponmu sekarang,” usul Appa.

“Baiklah,” jawabku senang.

Siang ini aku berjanji untuk menemui Kyuhyun-ssi di taman dekat kantor menejemennya. Sepertinya dia sedang sibuk, tapi dengan berbaik hati mau mengantarkan handphoneku yang semalam tertinggal di dormnya.

Udara hari ini masih sedingin kemarin. Maklum saja, karena masih dipertengahan musim dingin. Aku semakin merapatkan mantelku pada tubuhku, kugosok-gosokkan tanganku pada pipiku yang terasa membeku.

“Dimana dia? Kenapa lama sekali? Lama-lama aku bisa membeku disini,” keluhku sambil semakin merapatkan pelukanku pada tubuhku sendiri. Sudah hampir tiga puluh menit aku menunggunya disini. Kuputuskan untuk duduk di sebuah bangku taman. Kakiku mulai pegal karena lama berdiri. Kugosok-gosok tanganku sambil meniupnya agar terasa hangat.

Tiba-tiba sebuah tangan yang memegang secangkir kopi panas terulur dihadapamku. Membuatku kaget dan langsung melayangkan pandangan pada seseorang yang sedang berdiri dihadapanku. Wajahnya tersenyum dibalik jaket hoodienya tanpa kacamata seperti kali pertama aku melihatnya.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” katanya sambil menyerahkan secangkir kopi panas ke tanganku yang hamper membeku, lalu ia duduk disampingku. Wajahnya masih setampan kemarin. Tidak, tidak sama, sepertinya dia lebih tampan hari ini.

“Belum terlalu lama untuk bisa membuatku membeku,” jawabku sambil tersenyum. Tanpa berpikir lagi langsung kusesap kopi yang kehangatannya menggodaku untuk segera meminumnya.

“Mianhae,” ucapnya lembut.

“Gwenchanayo,” ucapku, lalu kuseruput lagi kopi yang berada digenggamanku.

“Aaahh,,” aku mendesah menikmati kehangatan yang menuruni tenggorokanku dan berpusar di perutku.

“Kau benar-benar lucu,” katanya. Kata-kata itu lagi. Perasaan hangat yang tidak ada hubungannya dengan kopi yang baru saja kuminum tiba-tiba menguasaiku. Kuputar tubuhku menghadap namja tampan disampingku.

“Maaf Kyuhyun-ssi, Apa aku tidak mengganggu acaramu dengan memintamu datang kesini?” tanyaku sambil menatapnya lurus-lurus. Bisa kurasakan dadaku bergemuruh nyaring.

“Aku sedang istirahat dari latihanku. Lagipula aku yang seharusnya meminta maaf karena kau yang harus datang kesini bukannya aku yang mengantarkan barangmu yang ketinggalan.” katanya sambil menyerahkan handphoneku.

“Tidak apa-apa. Lagipula dengan berjalan-jalan aku bisa dengan cepat mengingat jalanan dikota ini.” kataku jujur.

“Sara-ssi, apa kau mau berjalan-jalan denganku kapan-kapan? Akan kutunjukan tempat yang indah padamu,” katanya sambil menatapku lekat. Apa dia baru saja menawariku untuk pergi bersamanya? Apa ini sebuah kencan? (pliiisss deh jangan ge-er!!!)

“Apa aku tidak salah dengar? Seorang Cho Kyuhyun yang super sibuk mengajakku jalan-jalan?” tanyaku sengaja ingin memperjelas maksud dari ucapannya barusan.

“Hmm, aku serius. Lagipula aku harus membalas kebaikanmu,” jawabnya santai. Oh, ternyata hanya untuk membalas budi. Baiklah, walaupun untuk hal yang jauh dari pikiran dan harapanku. Tapi, tawarannya tidak akan kutolak begitu saja.

“Baiklah kalau itu tidak merepotkanmu,” jawabku sambil memamerkan senyum terbaikku. Bisa kulihat wajahnya juga tersenyum mendengar jawabanku. Aahhh neomu kyeopta.

Author POV,,

Tidak jauh dari posisi Sara dan Kyuhyun duduk dan berbincang ada tiga orang namja yang sedang mengamati mereka.

“Aish, kenapa gadis itu membelakangi kita Hyung? Aku kan jadi tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas,” keluh Siwon pada Dong Hae dan Leeteuk. Mereka bertiga sangat penasaran pada Kyuhyun yang bersikeras ingin latihan segera dihentikan karena memiliki janji yang penting. Ternyata janji penting itu adalah bertemu seorang gadis misterius yang membuat semua member super junior penasaran.

“Apa dia itu gadis yang semalam Hyung ceritakan itu ya?” tanya Dong Hae pada Leeteuk.

“Entahlah, tapi sepertinya memang dia orangnya.” Jawab Leeteuk yakin.

“Lihat dia memberikan sebuah ponsel pada gadis itu, itu pasti memang gadis yang semalam menolongnya,” Leeteuk makin yakin dengan kata-katanya.

“Aku sangat penasaran dengan wajahnya hyung, Lihat, sekarang bocah itu tersenyum seperti itu.” Siwon kembali berkomentar setelah melihat wajah Kyuhyun yang tersenyum sumringah.

“Aku juga Siwon-ah. Apa kita hampiri saja mereka. Berpura-pura tidak sengaja melihat mereka disini?” tanya Dong Hae pada dua orang disampingnya.

“Sepertinya bukan ide yang bagus. Kyu itu tidak bodoh untuk menerima alasan seperti itu. bisa-bisa kita dihabisi evil-magnae itu,” kata Leeteuk bijaksana.

“Ah, kau benar hyung. Lalu bagaimana caranya kita bisa melihat wajah gadis itu. aku sangat penasaran.” Kali ini Dong Hae mulai tidak sabaran.

“Sepertinya kita harus bersabar kali ini. Yang penting kita sudah tahu alasan yang membuatnya terlihat ceria seperti itu. Ayo kita kembali ke ruang latihan sebelum Kyu memergoki kita disini,” ajak leeteuk pada para saengnya yang terlihat kecewa. Tapi mereka menuruti ajakan hyungnya walaupun dengan berat hati.

Sesampainya mereka di ruang latuhan super junior ketiganya menceritakan pengintaian yang telah mereka lakukan. Mereka menceritakan setiap detail dari gerak-gerik Kyu dan gadis yang hanya diketahui namanya itu pada seluruh member yang penasaran.

Kyuhyun POV,,

Hari ini aku sedang bersama dengan gadis itu. Sara memang gadis yang unik, sangat galak sekaligus sangat manis. Senang sekali marah tapi sangat perhatian. Kombinasi yang tidak biasa bukan? Lawan yang sepadan untuk bertengkar tapi seorang yang sangat bisa diandalkan. Aku suka sikapnya yang tidak berpura-pura dihadapanku. Sangat tenang sekaligus menghanyutkan. (gimana bingung gak tuh kata-katanya??)

“Lotte world? Kau yakin Kyuhyun-ah? tapi tempat itu kan sangat ramai,” tanya gadis dihadapanku kaget.

“Hmm, aku sudah lama ingin kesana tapi tidak ada yang bisa menemaniku. Makanya sekarang aku memintamu menemaniku. Kau mau kan Sara-ya?” tanyaku. Aku ingin sekali menikmati malam yang menyenangkan dengan dirinya.

“Tapi apa kau tidak takut pergi kesana?” tanyanya lagi. Masih dengan nada suara yang ragu.

“Tentu saja aku berani, kau meremehkanku hah?” tanyaku sambil tersenyum.

“Bukan itu maksudku Kyuhyun-ah. Aku malah senang kalau ternyata kau ini tidak penakut, jadi aku bisa ada teman menaiki permainan yang menguras adrenalin. Hanya saja tempat itu sangat ramai, kau tidak takut kalau ada yang mengenalimu?” tanyanya. Ohh ternyata dia mengkhawatirkan keadaanku yang seorang artis. Sangat perhatian walaupun ada nada meremehkan diawal kata-katanya tadi.

“Aku akan menyamar, kau tidak usah khawatir,” jawabku menenangkannya.

“Baiklah kalau itu maumu, aku juga sebenarnya ingin pergi kesana hehehe,,,” katanya sambil tertawa. Bisa kulihat binar bahagia dimatanya yang indah.

“Kujemput kau besok sore. Sekarang aku harus kembali latihan. Sampai jumpa,” ucapku sambil meninggalkannya. Dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Sara POV,,

“Waahh, aku rindu sekali tempat ini.” Ucapku menikmati keadaan tempat yang kukunjungi ini.

“Aku juga, sudah lama sekali tidak ke tempat seperti ini,” ucap seorang namja disampingku, tubuhnya dibalut sweater hoodie, sebuah syal melingkar dilehernya, kacamata menutupi sebagian wajahnya dan sebuah topi yang menutupi kepalanya. Penyamaran yang cocok untuk udara yang dingin seperti hari ini.

“Baiklah, ayo Kyuhyun-ah kita main permainan itu, sepertinya seru sekali,” ajakku sambil menggandeng tangan namja yang berdiri disampingku.

“Sara-ya, berhenti memanggilku seperti itu. walaupun aku berdandan seperti ini tapi orang-orang akan penasaran dengan nama yang kau ucapkan,” katanya mengingatkanku. Benar juga yang dikatakannya.

“Lalu kau mau kupanggil apa?” tanyaku sambil masih menggandeng tangannya.

“Panggil aku Oppa, aku kan lebih tua darimu Sara-ya,” ucapnya sambil tersenyum. Aku suka sekali melihat senyumnya itu.

“Mwo? Oppa?” tanyaku. Dia hanya mengangguk.

“Hmm, baiklah aku akan memanggilmu Oppa, tapi hanya hari ini,” ucapku sambil mempercepat langkahku menuju arena permainan yang sedari tadi sudah sangat ingin kujajaki.

“Yak, kenapa hanya hari ini?” tanyanya sambil menghentikan langkahku.

“Karena umur kita hanya berbeda tiga tahun saja, itu kan tidak terlalu jauh. Lagipula aku bukan Elf yang tergila-gila padamu Oppa,” ucapku sambil tersenyum sengaja memberi tekanan pada kata ‘Oppa’. Dia hanya memandangiku pasrah.

Malam itu kami bermain dengan sangat puas. Walaupun tidak semua permainan bisa kita mainkan tapi aku sangat senang. Mengenang kembali masa kanak-kanakku. Walaupun kami berkali-kali harus menghindari kerumunan orang tapi penyamaran Kyu sangat berhasil.

“Malam ini sangat menyenangkan bukan?” tanyanya padaku ketika kami dalam perjalanan pulang.

“Hmm, aku senang sekali,” jawabku sambil mengembangkan senyumku.

“Kita harus sering melakukan hal seperti tadi. Dan kau, harus mau menemaniku,” katanya sambil menyentuh lembut hidungku. Ahh, kenapa dia selalu membuatku berdebar seperti ini.

“Oke, sekarang kita akan kemana?” tanyaku.

“Kita makan, aku lapar sekali. Di dekat sini ada yang menjual Jjangmyeon yang sangat enak,” katanya. Makan itu lagi? Aahh, baiklah aku akan mengalah kali ini.

Itulah awal kedekatan kami, kedekatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh kami berdua,, kedekatan yang membuatku semakin jatuh cinta padanya,,,,,

Sara POV,,

Sudah dua bulan aku mengenal Kyuhyun. Dia namja yang baik, walaupun terkadang kelakuannya sangat ajaib. Sebenarnya kami memiliki banyak sifat yang bertolak belakang. Bayangkan saja, dia sangat menyukai games sedangkan aku tidak menyukai hal yang berbau games karena entah kenapa aku selalu kalah kalau bermain games dan itu selalu membuatnya senang karena bisa mengolok-olokku sampai puas karena kalah bertanding games dengannya. Maka dari itu aku lebih menyukai berbagai macam novel sebagai pengisi waktu luangku selain hoby melukis dan memasakku. Selain itu, aku bisa dibilang sebagai seorang gadis yang cukup pandai memasak sedangkan Kyu keahlian memasaknya benar benar nol besar. Tapi kami memiliki kesamaan yang membuat kedekatanku dengannya terlihat tidak mungkin, kami sama-sama keras kepala. Mungkin karena aku adalah anak satu-satunya dikeluargaku jadi aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan sedangkan Kyu adalah anak bungsu yang selalu diperhatikan oleh semua orang.

“Kau mau makan apa hari ini?” tanyaku pada namja disampingku yang matanya tertuju pada PSP yang digenggamnya.

“Jjangmyeon,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari benda yang digenggamnya

“Yak, Masa makan itu lagi? Kita makan shabu-shabu saja ya, aku sudah lama tidak makan makanan Jepang,” kataku sambil terus memacu mobilku menyusuri jalanan yang sudah cukup sepi.

“Sayuran? No, Thank’s.” katanya sambil menatapku ngeri.

“Kau ini kenapa sih tidak suka sayuran. Sayuran itu baik untuk tubuhmu Kyu.” kataku menasehatinya.

“Menjijikan rasanya memasukan makanan sapi kedalam tubuhku.” katanya sambil menggelengkan kepalanya. Cih, padahal dia suka memakan daging sapi. Bukankah secara tidak langsung juga memakan nutrisi dari sayuran?

“Itu tidak masuk akal, Kyu! Sudahlah, hari ini aku yang mentraktir jadi kau jangan rewel!” kataku dengan tatapan sinis. Bisa kulihat Kyu hanya mengangguk pasrah. Akhirnya kuparkirkan mobilku disebuah resto Jepang kesukaanku.

“Jangan lupa topi dan kacamatamu. Aku tidak mau dikejar-kejar fansmu seperti kemarin. Merepotkan saja,” kataku sambil memakaikan topi dan kacamata pada Kyu yang masih berkutat dengan PSPnya.

“Bukan salahku kalau hal itu terjadi. Aku kan memiliki banyak penggemar, jadi itu sudah resiko kalau kau pergi bersama idola tampan sepertiku,” katanya menyombongkan diri. Mendengar kata-katanya aku merasa kesal sekaligus geli. Dia memang memiliki banyak penggemar dan aku tahu itu. Tapi, tidak usah sepercaya diri itu.

Dengan sengaja kutinggalkan Kyu yang masih berkutat dengan PSPnya.

“Yak, Sara-ya jangan tinggalkan aku,” panggilnya sambil mengejarku memasuki resto.

Suasana resto cukup sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan malam. Kami berjalan menuju meja yang berada dipojok resto. Meminimalisir kemungkinan terjadinya kehebohan yang mungkin akan terjadi bila ada yang mengetahui Kyu disini. (beribet banget gak sih kata-katanya? Author juga jadi bingung hehehe,,,)

Setelah memesan makanan, Kyu kembali berkutat dengan PSP yang tidak pernah lepas dari genggamannya. Melihat hal itu membuatku kesal.

“Yak, Kyuhyun-ah untuk apa kau mengajakku keluar kalau kau hanya terus sibuk dengan PSPmu?” tanyaku ketus.

“Aku sedang bosan berada di dorm. Aku ingin ditemani menikmati udara malam,” katanya menatapku. Mengalihkan konsentrasinya dari permainan ditangannya, sepertinya dia besungguh-sungguh.

“Kalau kau benar-benar ingin aku temani. Kanapa kau malah asik sendiri dengan PSPmu itu. apa kau benar-benar tidak menganggapku ada disini, hah?” tanyaku masih kesal.

“Jadi kau cemburu pada PSP-ku?” tanyanya dengan tatapan geli.

“Yak, yang benar saja! Untuk apa aku cemburu padamu, kau ini narsis sekali.” Kataku sambil menunjukan ekspresi tidak peduliku.

“Tapi sepertinya tidak begitu. Kau Nampak tidak rela jika aku bermesraan dengan PSP-ku ini,” katanya sambil menatap PSPnya dengan tatapan memuja. Cih, benda mati seperti itu sangat diperhatikannya, sedangkan perasaanku padanya tidak dirasakannya sama sekali.

“Yak, lama-lama kau itu bisa sangat menyebalkan. Bisa tidak kau tidak membuatku marah sehari saja?” bentakku kesal. Kenapa namja ini acuh sekali padaku?

“Mianhae, aku hanya sedang resah.” katanya.

Resah ? Kenapa resah? Apa karena albumnya yang akan segera keluar? Wajar saja kalau resah karena itu.

“Sara, kau masih ingat ceritaku beberapa hari yang lalu kan?” tanyanya tiba-tiba.

“Cerita yang mana?” tanyaku masih dengan nada kesal.

“Cerita tentang seorang gadis yang kusukai. Sepertinya aku akan segera mengutarakan perasaanku padanya, bagaimana menurutmu?” tanyanya sambil menatapku lekat-lekat.

Oh, cerita tentang gadis itu? gadis yang membuatku cemburu setengah mati. Gadis yang membuat Kyu bersemangat setiap kali menceritakan pertemuan mereka. Gadis yang sangat beruntung.

“Oh, cerita itu. kalau itu hal yang menurutmu baik sebaiknya segera kau lakukan,” kataku sambil menahan air mata yang sudah mulai menggenang dipelupuk mataku. Kau jahat Kyu! Apa kau tidak tahu kalau aku menyukaimu?

Pikiranku melayang ke hari-hari saat Kyu sangat bahagia ketika menceritakan padaku betapa bahagianya dia setelah bertemu dengan gadis pujaan hatinya, bagaimana matanya berbinar-binar ketika bercerita kalau semalam gadisnya menelpon atau ketika gadis itu memasakkan makanan untuknya. Menyakitkan setiap kali mendengar nada suara Kyu yang bahagia ketika menceritakan gadis itu. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya seorang teman yang baru dikenalnya. Walaupun pertemanan kami yang singkat ini sudah membuatku merasa sangat dekat dengannya tapi belum tentu dia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan bukan?

“Apa kau tidak ingin tahu siapa gadis itu?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Kalau kau mau mengenalkannya padaku kau pasti akan mengajaknya bertemu denganku kan? Aku tidak akan memaksamu Kyu,” kataku berusaha tenang. Berusaha menenangkan gemuruh menyakitkan didadaku.

“Baiklah kalau begitu. Besok ikut aku ke pulau Jeju. Aku ada pekerjaan disana dan akan kukenalkan kau padanya,” katanya enteng sambil mengusap pelan tanganku yang terkulai diatas meja. Apa? Mengenalkanku pada gadis itu? Apa aku sanggup untuk menemuinya?

“Hei, kau benar-benar memesan makanan sapi ini ya?” tanyanya setengah berteriak ketika melihat pelayan meletakan shabu-shabu yang kupesan tadi.

“Yak!! Kyu kalau kau tidak memakannya maka aku tidak akan ikut besok,” kataku mengancamnya. Dia hanya menatapku ngeri dan mengangguk. Senang rasanya melihat Kyu pasrah seperti ini.

“Ara,, ara,, aku akan memakan ini semua,” katanya sambil menyuapkan sawi hijau kemulutnya. Sepertinya dia ingin sekali aku datang menemui gadis pujaan hatinya itu. Aku hanya bisa mendesah pelan. Ya Tuhan kuatkan hatiku,,

Kyuhyun POV,,

“Hyung apa semuanya sudah siap?” tanyaku pada Hyung-hyungku yang berkumpul di villa yang sudah kami sewa.

“Semuanya sudah beres Kyu. Kau tenang saja,” Sungmin hyung menjawab pertanyaanku.

“Huuh dadaku berdebar kencang sekali. Aku sangat gugup,” ucapku mengungkapkan perasaanku pada para hyungku.

“Tenang saja Kyu. Aku yakin kau akan sukses malam ini,” Teukie hyung memberiku semangat. Ya, aku juga berharap seperti itu.

Akupun berjalan memasuki kamarku. Menelpon Sara untuk menanyakan apakah dia sudah tiba atau belum?

“Sara-ya. Dimana kau sekarang?” tanyaku.

“….”

“Oh, itu sudah dekat dari villa yang kami sewa.” Jawabku.

“….”

“Baiklah, aku tunggu kau dipantai ya,” kataku sebelum menutup ponselku. Dan melangkah keluar kamar.

“Hyung, aku akan bersiap diposisi, sebentar lagi dia sampai.” Kataku pada hyung-hyung yang masih sibuk sendiri-sendiri diruang tengah.

“Baiklah, kami juga akan bersiap diposisi kami kalau begitu.” Merekapun beranjak meninggalkan vila dan menuju posisi yang dimaksudkan. Aku dengan gugup menuju bibir pantai sambil memandangi matahari yang hampir tenggelam.

Tidak lama kemudan,,

“Haahhh,, indahnya.” Ucap seorang yoeja disampingku. Ternyata yoeja yang sedari tadi kutunggu sudah berada disisiku. Akupun tersenyum melihatnya.

“Hmm, memang indah” kataku mengiyakan perkataannya. ‘Tapi kau lebih indah Sara-ya’ batinku

“Mana gadis itu? aku tidak melihatnya disini?” tanya Sara penasaran.

“Dia sudah datang,” jawabku enteng.

“Mana?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.

“Kau bohong, tidak ada orang lain disini. Pantai ini sepi sekali.” Katanya lagi. Memang tidak ada orang lain Sara-ya. Wanita itu kau Sara. Aku tersenyum miris, kenapa gadis ini tidak mengerti juga? Dasar gadis babo!!

“Sara,,” panggilku lembut. Kudekatkan tubuhku ke tubuhnya. Kutatap matanya yang melebar kaget karena tindakanku.

“Yak! Cho Kyuhyun apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil melangkah mundur. Melihat tindakannya kugenggam kedua tangannya agar tidak bergerak menjauh dariku.

“Kenapa kau masih belum sadar juga? Kau ini benar-benar bodoh atau apa sih?” tanyaku gemas.

“Kau ini kenapa? Kenapa mengataiku bodoh? Kau cari mati, hah?” tanyanya ketus sambil mencoba melepaskan genggaman tanganku ditangannya.

“Gadis itu kau Sara-ya. Kenapa kau tidak menyadarinya?” tanyaku yang semakin gemas melihatnya.

“Mwo? Aku? No way,” katanya tak percaya. Matanya semaikn membulat menunjukan ketidakpercayaan yang sangat jelas.

Melihatnya yang mematung tidak bergerak membuatku agak khawatir. Kudekatkan kembali tubuhku ke tubuhnya. Melihatnya yang tidak memberi respon membuatku memeluknya.

Sara POV,,

Dia semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku yang mematung lalu memelukku. Membuatku tersadar kalau ini bukan mimpi. Kenapa dia mengatakan itu? apa benar selama ini gadis yang dicintainya adalah aku?

“Sara jangan seperti ini, kau membuatku takut,” ucapnya lirih ditelingaku.

“Kyu, kau serius dengan ucapanmu? Aku tidak mengerti,” akhirnya kupaksakan juga suaraku keluar.

“Tidakkah kau menyadarinya? Cerita mengenai pertemuan itu kuceritakan setelah aku bertemu denganmu. Cerita tentang telepon itu juga kuceritakan setelah kau menelponku. Kau benar-benar tidak menyadarinya?” tanyanya sambil memandang mataku lekat. Aku hanya mampu menggeleng.

“Gadis bodoh,” katanya sambil mengacak rambutku. Air mataku sudah hampir jatuh membasahi pipiku. Air mata bahagiaku.

“Saranghaeyo Sara-ya, jadilah gadisku,” ucapnya sungguh-sungguh. Aku hanya memandangnya takjub. Tidak percaya pada apa yang baru saja diucapkannya. Tanpa bisa kucegah air mataku mengaliri kedua pipiku. Aku benar-benar bahagia.

“Uljima, kenapa kau menangis?” tanyanya cemas sambil mengusap airmata dipipiku.

“Aku bahagia Kyuhyun-ah. Aku bahagia karena kau mencintaiku,” jawabku sambil menundukkan wajahku.

“Apa? Kau kenapa?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Na ddo saranghae Kyuhyun-ah,” jawabku dengan suara hampir berbisik.

“Apa? Aku tidak mendengarnya,” tanyanya semakin menggodaku.

“Yak!! Kyuhyun-ah. Kau ini budek atau apa sampai tidak bisa mendengar kata-kataku,” ucapku ketus. Bukan karena marah tapi karena aku gugup dan malu.

“Kenapa harus membentakku. Jadi sekarang kau resmi menjadi yoeja cingu-ku?” tanyanya sambil memamerkan senyumnya yang bisa membiusku.

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaanya. Tanpa permisi dia langsung memelukku erat dan mengangkat tubuhku sambil memutar-mutarnya hingga kepalaku pusing dibuatnya. Aku saaaangat bahagia.

Tiba-tiba kudengar suara desisan dan letupan. Sontak saja Kyu menurunkanku dari aksinya tadi. Kami sama-sama menikmati hujan kembang api diatas kepala kami. Sangat indah menghiasi langit malam yang hitam pekat.

“Cukhaeyo uri magnae,” terdengar suara beberapa orang dibelakangku yang disusul dengan suara tepuk tangan dan siulan.

Ternyata para member SuJu yang lain juga ada disini. Apa mereka melihat apa yang baru saja terjadi antara aku dan Kyuhyun? Aahh, aku malu sekali. Kyu yang berdiri disampingku hanya menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakin tidak terasa gatal.

“Gomawo hyung,” ucapnya malu-malu. Aiish, bocah ini membuatku malu saja. Tanpa basa-basi dia memelukku lagi.

“Yak, Cho Kyuhyun lepaskan aku!” teriakku. Tapi Kyu malah semakin mengeratkan pelukannya ketubuhku.

“Hahahahahaha,,,,” terdengar suara tawa dari beberapa orang yang melihat tingkah Kyu. Ya sudah, aku pasrah.

Cr :Radistha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar